NEWS    
REVIEWs    
FASHION ISSUE    

Elemental Gaze

Elemental Gaze

Tour Diary. Baybeats Music Festival, Singapore 2008.

Day 1

Rombongan Elemental Gaze (EG) bertemu di bandara Soekarno-Hatta. Saya, Bilan, Fitrah, dan Joy berangkat dari Bandung jam 1 malam, sedangkan Lutfi plus mas Andi dan Yudi (kakaknya Lutfi), Reza (teman Lutfi) dan Dina langsung menuju bandara karena mereka berdomisili di Jakarta. Rombongan EG kali ini lebih banyak dibanding kepergian ke Malaysia bulan sebelumnya. Kami lepas landas waktu subuh menuju Batam.

Tiba di Batam kami langsung menuju pelabuhan. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, pemandangan yang kami lihat seperti kota yang tanpa ”kota”. Saya kira Batam adalah kota yang cukup ramai, ternyata sepanjang perjalanan saya hanya melihat tanah-tanah merah yang nganggur meskipun nampak disiapkan untuk dibangun gedung-gedung. Ternyata jalan yang kami lalui tidak melewati pusat kota Batam, hanya bagian pinggir kotanya saja. Pak supir taksi bilang bagian pusat kotanya memang ramai, tak seperti yang kami lalui.

Kami bertolak menuju Singapura menaiki kapal ferri. Singapura, sebuah pulau kecil di ujung daratan benua Asia yang ujungnya dibatasi negara Malaysia. Dahulu, pada abad pertengahan saat Asia Tenggara mulai ramai menjadi kawasan perdagangan internasional, (mungkin) keramaian itu malah tak mewujud di tanahnya. Berabad-abad setelahnya, kini, Singapura menjadi negara dengan pendapatan per kapita paling tinggi di Asia Tenggara. Kondisi ekonominya mapan, lahannya yang sempit dimaksimalkan dengan pembangunan beragam infrastuktur dan tak lupa arena wisata, rekreasi, dan konsumsi yang (sepertinya) menyediakan banyak hal yang orang-orang inginkan (lihat saja iklan wisata-rekreasinya yang rajin hadir di koran Kompas).

Sewaktu di ferri, saya tak menyangka akhirnya kepergian ini berjalan lancar juga. Beberapa hari sebelum berangkat, kami kebingungan untuk menutupi kekurangan dana yang besarnya sama dengan setengah total ongkos kepergian ke Singapura ini. Kekhawatiran kami hilang setelah salah satu sponsor bersedia menyediakan dana untuk perjalanan ini. Bantuan itu datang hanya satu hari sebelum kami berangkat. Yang lebih tegang, bantuan itu baru cair hanya setengah jam sebelum Money Changer (tempat penukaran mata uang) di Bandung tutup. Beribu terima kasih kepada Threesecond, Moutley, dan Greenlight yang sudah menyelamatkan perjalanan kami.

Daratan Singapura sudah dekat. Bukan pohon-pohon kelapa atau deretan gunung yang menyambut kami, namun kotak-kotak kecil yang dari jauh tampak seperti mainan: gedung-gedung yang menjulang ke langit. Saat memasuki pelabuhan, kami sempat melihat aktifitas (yang waktu itu kami sebut ”barbuk”—barang bukti.red) pembangunan ”daratan tambahan”, dengan kapal-kapal pengangkut tanahnya yang sangat besar itu. Kami jadi ingat berita pengangkutan tanah ilegal dari kepulauan Indonesia berbulan-bulan yang lalu.

Merapat di dermaga, penumpang turun dan segera menuju tempat imigrasi. Sebelumnya, kami dengar cerita dari teman bahwa pihak imigrasi di Singapura sangat ketat terhadap orang-orang yang masuk ke negara itu. Terbukti! Saya, Bilan, dan Joy yang telah mempersiapkan beberapa bungkus rokok terpaksa mengaku membawa barang yang masuk kategori ”red alert” itu. Jika kami tidak mengaku membawa rokok dan ketahuan saat di x-ray maka celakalah kami. Denda untuk satu bungkusnya adalah 200 Dolar Singapura, yang kalau dirupiahkan saat itu sama dengan 1.300.000 Rupiah. Gila, satu juta tiga ratus ribu rupiah untuk sebungkus rokok! Akhirnya, kami bertiga mengakuinya di stand informasi ”Things to Declare” (ada dua plang informasi, selain ini, yang satunya adalah ”Nothing to Declare”—bagi yang merasa tidak membawa barang-barang yang dilarang di negeri ini, dapat langsung melewati plang ini pada pemeriksaan x-ray).

Saat diperiksa petugas, kami masih ditawari membawa rokok itu karena menurutnya kami tergolong pendatang yang baik dengan mengakui membawa rokok. Tapi, tentu tidak gratis, untuk satu bungkusnya diberi harga 24 Dollar Singapura. Ah, itu sama saja memeras kami. Akhirnya kami merelakannya. Yang boleh kami bawa hanya bungkus rokok yang sudah dibuka (mereka hanya menyita yang masih dibungkus). Nah, Bilan kena sial. Ia hanya membawa satu bungkus rokok Gudang Garam filter. Ternyata, pak petugas Imigrasi yang orang Melayu itu masih berbaik hati. Saat Bilan sudah BT melihat bungkus rokoknya, petugas itu hanya membuka lantas hanya mengambil satu batang dan menyerahkan sisanya pada Bilan sambil bercanda, ”yah, ini untukmu tak apalah”.

Perjalanan masih jauh menuju tempat tinggal kami disini. Yudi telah memesan apartemen di pusat kota, di sekitar jalan Orchard. Kami menuju stasiun MRT (mass rapid transportation), yaitu kereta bawah tanah seperti yang suka saya lihat di film-film bule. Dari pelabuhan, ternyata cukup jauh berjalan ke tempat MRT itu. Repotnya adalah karena kami membawa alat-alat manggung. Saya dan Joy ngangkut tool box yang paling besar dan rasanya cangkeul pisan.

Stasiun MRT merupakan tempat yang cukup, oh tidak, lumayan padat. Saya membayangkan jika saja ada MRT di Indonesia, atau minimal Bandung deh, rasanya jalan raya tidak akan sesemrawut seperti sekarang.

Hari pertama, akhirnya tiba di apartemen. Bertemu dengan kamar mandi rasanya sangat lega setelah pegal, lelah, dan kepanasan. Penjaga apartemen kami ternyata orang Indonesia juga. Ia baru 6 bulan kerja di apartemen ini. Suasana jadi lebih bersahabat karenanya meskipun si ibu kadang menampakkan rasa kesal karena majikannya suka memberi beban kerja lebih, tapi ia tetap baik pada kami. Apartemen ini mayoritas dihuni oleh orang Indonesia, terutama yang sedang atau menemani anggota keluarga yang dirawat di rumah sakit yang berada di sebelah gedung apartemen ini. Malam harinya kami menghabiskan waktu di kamar. Saya dan Bilan masih meng-edit lagu-lagu yang akan dimainkan besok. Setelah itu kami jamming cukup lama, rasanya menyenangkan sekali.

Day 2

Dari yang saya lihat, nampaknya kantung-kantung kehidupan di Singapura berada pada gedung yang di dalamnya mall dan apartemen menjadi satu. Bagian bawah gedung tempat tinggal kami adalah mall, penyedia berbagai kebutuhan orang-orang, dari parfum hingga makanan, sedangkan makin ke atas adalah tempat tinggal orang-orangnya.

Pagi hari kami sarapan di lantai paling bawah, food court. Harga makanan rata-rata 3-6 Dollar Singapura dan umumnya adalah masakan Cina, hanya beberapa yang menyediakan masakan Melayu dan Indonesia.

Siang hari kami berangkat menuju Esplanade, sebuah kawasan hiburan yang didominasi penampilan panggung, dari pementasan teater hingga konser grup musik. Tempat manggung kami berada di Nokia Arena, panggung yang tepat berada di sisi perairan Singapura. Tiba di Esplanade, kami dijemput oleh LO dan dibawa menuju panggung tempat acara berlangsung. Waktu sampai, kami takjub melihat panggung yang akan kami tempati itu. Wow! Ini adalah panggung terbesar yang pernah kami tapaki. Panggung itu lebih mirip tempat teater terbuka seperti di Roma jaman dahulu, namun dilengkapi dengan tata cahaya yang megah dan FOH serta monitor yang canggih. Mixer FOH dan monitor, keduanya mixer digital.

Kami checksound setelah Transition, grup musik dari Inggris. Seperti di Malaysia, keperluan teknis di panggung ini sangat baik, meskipun mereka tidak menyediakan gitar yang kami butuhkan (saya kira bakal ada). Akhirnya saya dipinjami gitar akustik Gibson dari band Transition itu oleh panitia. Checksound memuaskan, kami tidak sabar menanti malam tiba.

Setelah checksound kami jalan-jalan di sekitar Esplanade. Saya, Bilan, dan Joy berpisah dengan rombongan yang lain. Kami menyempatkan diri untuk berfoto ria dan ngobrol dengan panitia-panitia acara ini. Mereka sangat ramah. Ada dua orang panitia yang pernah datang ke Bandung dan memang memiliki hubungan pertemanan dengan orang-orang di scene musik Bandung.

Sore hari kami diwawancara oleh dua media besar: Channel V dan the Jakarta Post. Yang paling gondok dan lucu waktu bareng Channel V. Kami kira akan diwawancara biasa: sambil duduk santai dan seperti ngobrol-ngobrol, ternyata kami diwawancara sembari ditodong kamera shooting...oh tidak, kami masuk ke acara TV mereka! Untungnya tidak secara live. Celaka kalau live karena bahasa Inggris kami sangat blepotan. Dengan todongan kamera saja sudah cukup membuat kami kikuk. Tapi, ini pengalaman berharga, dan waktu diwawancara itu konyol banget karena kami harus beberapa kali take ulang karena sempet skip. Menyenangkan, dan katanya bakal masuk di MTV Asia (meski kami ga sempet melihatnya). Kemudian, acara dilanjutkan dengan wawancara oleh Jakarta Post. Untunglah reporternya orang Indonesia juga, jadi kami ngobrol-ngobrol panjang dan dalam suasana santai.

Akhirnya malam tiba. Kami bergegas menuju panggung setelah bersiap-siap di dressing room (padahal kami ga dandan sama sekali hahaha). Saya dan Joy ngambil alat-alat yang sudah disiapkan di ruang alat. Waktu ngambil, saya sempet parno karena saking dinginnya ruangan tempat nyimpen alat itu, laptop dan alat-alat yang lain terlihat agak basah karena embun. Kami langsung ngelap semua alat-alat, takut kejadian apa-apa, padahal sudah mau naik panggung.

Nunggu di backstage sambil melihat band lain perform bener-bener membuat saya tegang. Kami mencoba enjoy dan tenang, meskipun deg-degan karena ingin cepet-cepet naik, dan saya membuat diri saya lepas agar manggung kali ini tidak terasa seperti beban selain karena ini manggung terakhir saya juga.

MC mengambil alih mikrofon. Jumlah penonton disini jauuuh lebih banyak daripada di Malaysia, tentu karena ini festival tahunan dan gratis pula. MC memanggil kami, ”please welcome, Elemental Gaze from Indonesia!!!”. Ah, rasanya tegang namun membanggakan. Kami naik panggung. Tanpa berkata-kata kami langsung menggeber lagu Finally sebagai intro. Lampu dibuat agak gelap agar visualisasi yang kami putar terlihat dengan jelas (thanx to Akbar atas visualisasinya!!!). lagu pertama langsung membuat kami enjoy. Suara monitor yang kami dengar di atas panggung adalah suara monitor terbaik sepanjang kami manggung, kami pun keasyikan. Lagu kedua langsung dimainkan setelah lagu pertama usai, To Leave After the Memories are Full. Beres lagu kedua, saya mulai berbicara menyapa penonton, meskipun terlihat kaku. Ada satu blog yang mengomentari penampilan kami di Baybetas, berkata bahwa kami so 90s dan terlihat pemalu. Mungkin benar juga hehe. Setelah itu lagu ketiga, favorit kami, Unperfect Sky dimainkan. Lampu masih tetap agak gelap dan suasana di panggung sangat nyaman, seolah tiap lagunya berjalan cepat. Lagu berikutnya adalah God Knows Why This Should Be Kept For A Long Time. Lagu ini adalah lagu baru kami, sebelumnya belum pernah dimainkan. Kalo kata seorang teman, lagu ini lebih revival, tipikal shoegazing guitar-nya sangat kerasa. Di akhir lagu ini Lutfi sempat melihat jam tangannya dan berkata, ”njir, udah mau beres lagi”. Empat lagu di panggung ini sangat ngga kerasa. Bahkan, tiap lagunya saya selalu ingin bilang ke Bilan, ”bil, sound-na ngeunaheun pisan, jadi kangeunahan*” (*bil, soundnya enak banget...jadi keenakan niy). Terakhir, Let Me Erase You digeber plus noise-soundscaping session selama 10 menit (yang membuat kami main 6 menit lebih lama hehe).

Manggung selesai, kami bertiga langsung turun panggung dan saling menatap kegirangan. Saat itu saya pikir, beginilah seharusnya manggung. Lepas, tidak ada beban, dan hasilnya pun memuaskan. Apapun yang kami hadirkan, yang penting adalah poin dimana kami merasa nyaman saat bermain.

Setelah membereskan alat-alat, saya menghisap rokok dan rasanya nyaman sekali, seolah beban yang ada hilang seketika. Puas. Kami duduk sambil ngobrol-ngobrol dengan orang Indonesia yang datang menghampiri kami setelah beres manggung (Imel dan Nova) dan panitia acara yang kami temui sore harinya. Kami juga jalan ke tempat patung singa khas Singapura itu berada, hanya melewati jembatan di pinggir Esplanade, dan berfoto-foto disana.

Selesai jalan-jalan, ternyata acara belum beres. Kami balik lagi ke Esplanade. Saya, Lutfi, dan Joy duduk di belakang panggung yang menghadap langsung ke laut. Suasana seperti ini sangat mendukung untuk saling bercerita atau bersenda gurau atau juga pacaran. Ya, pacaran. Karena kami menemui sepasang kekasih sedang duduk sembari berpelukan mesra menatap laut di depannya, dibelai angin yang halus, yang sepertinya menambah hangat perasaan intim mereka. Kami bertiga yang duduk di belakangnya lama-lama nyadar bahwa di depan kami nampak sedang enjoy sekali. Dan akhirnya, entah karena pengaruh angin atau memang gerak refleks mereka, saat kami sedang juga menikmati duduk-duduk santai itu, mereka ciuman mesra...dan lama sekali. Kami sebagai trio lelaki pendatang cukup ketawa-ketawa karenanya. Beberapa menit kemudian, datanglah sepasang kekasih ras bule yang duduk di sebelah kiri bawah kami. Paras gadisnya seketika mencuri konsentrasi akan momen ciuman yang tersaji di depan kami. Setelah saling bercanda tentang gadis itu, tak lama kemudian mereka pun melakukan hal yang sama dengan sepasang kekasih di depan kami. Oh, apa yang terjadi?? Kami malah bengong dan tidak lagi ketawa-ketiwi melihat dua pasang kekasih yang sedang bercumbu itu. Dengan penuh inisiatif, Joy mengeluarkan kamera dan mulai mencari-cari sudut untuk merekam momen ciuman itu. Hhahaha. Joy melakukannya sambil pura-pura memoto kami. Saat saya melihat ke sebelah kanan, datang lagi sepasang kekasih. Oh, oh, nampaknya ini area favorit untuk pacaran ya?

Kami pulang sekitar jam 11 malam naik bus. Yah, bus yang ga seperti disini tentu. Alangkah enaknya transportasi bus ini masih beroperasi hingga tengah malam. Sayangnya, bus ini tidak berhenti di depan apartemen kami sehingga kami harus berjalan beberapa blok menuju apartemen.

Day 3

Hari ini kami berencana jalan-jalan sepuasnya. Kami harus start jalan dari pagi karena hanya mempunyai satu hari untuk ngubek-ngubek Singapura. Tempat yang kami tuju adalah Peninsula, jalan Bugis, Mustafa, dan Four apa gitu (saya lupa). Tempat pertama ke plaza Peninsula. Rencananya saya akan mencari kaos band favorit saya. Namun, ketika tiba disana, toko yang dituju ternyata masih tutup padahal hari sudah beranjak siang (sekitar jam 11). Ketika kami mendatangi toko itu, kami melihat ada seseorang di dalam toko. Dari ciri-ciri fisiknya dia orang India. Kami mencoba menggedor pintu, berharap dia mau membuka toko. Tapi, dia tak menggubris. Toko itu buka sore hari.

Perjalanan dilanjutkan ke jalan Bugis. Setelah naik MRT kami berjalan cukup jauh untuk sampai ke jalan Bugis. Memasuki area belanjanya seperti masuk ke Pasar Baru atau Pasar Beringharjo, namun dengan tata-letak toko yang lebih teratur dan rapi, dan tentu tak sesumpek di pasar baru. Mungkin ini adalah pasar baru versi negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi. Harga jual barang di area ini tergolong yang termurah di Singapura. Makanya, banyak turis asal Indonesia yang merekomendasikan tempat ini. Selain itu, barang dagangannya pun beragam. Mulai dari kaos oblong Sisingapuraan hingga sex toys pun tersedia.

Saya cukup bingung setelah melakukan satu keliling putaran di area ini. Untungnya saya menemukan toko kecil tempat menjual segala pernak-pernik dari Tibet. Ketika saya masuk, sang pedagang sedang ngobrol dengan seseorang. Dari hasil mencuri-curi obrolan mereka, ternyata seseorang itu sedang konsultasi tentang masalah spiritual. Saya membeli dua gelang, dupa, dan bendera Tibet berukuran kecil (tadinya saya melihat stiker propaganda ”Free Tibet”, namun ketika pedagang itu menawarkan saya pikir harganya terlalu mahal untuk ukuran stiker). Sebenernya saya juga ingin membeli tempat pembakaran dupa dan ”singing bowls” (mangkuk keemasan yang jika sisi lingkar mangkuknya digosok dengan sebilah kayu lonjong maka akan menghasilkan bunyi ngggggnnnnggg uuuunnngggg yang sangat ambient dan me-ruang), tapi harganya yang melebihi persediaan uang saya di negeri keci ini membuat hati ciut. Apa boleh buat.

Dari jalan Bugis kami jalan kaki ke plaza Four xxx (lupa lagi namanya). Disitu saya berharap menemuka kaos band favorit saya. Akhirnya ketemu juga toko yang menjual baju-baju band itu, tapi hasilnya nihil. Kami hanya sebentar di plaza ini, lalu menyempatkan untuk buka puasa.

Kami kembali lagi ke Orchard karena teman-teman rombongan perlu menyimpan barang belanjaan yang cukup banyak itu (saya belanja paling sedikit) di apartemen. Teman-teman yang lain pergi ke Mustafa, kawasan perbelanjaan semacam jalan Bugis. Saya sudah lelah untuk ngubek-ngubek toko per toko lagi. Tujuan akhir saya hanya satu: membeli DVD boxset Blur. Maka, pergilah saya dan Dina ke HMV, sebuah record store yang cukup besar dan lengkap. Kami berjalan menyusuri jalan Orchard dan tiba di HMV. Saya sudah PD bahwa barang incaran saya itu bakal ada karena sebelumnya Yudi memberitahu barang yang saya cari itu ada di HMV. Setelah setengah jam melihat-lihat CD, saya baru bertanya kepada pegawai HMV tentang barang yang saya cari. Saat itu hanya 15 menit sebelum HMV tutup. Di luar perkiraan, kejadian sial menghampiri saya: CD itu out of stock! Saya langsung berpikir untuk mencari alternative lain sambil berjalan terburu-buru. Oke, akhirnya setelah saya bertanya-tanya, ada satu lagi record store (kalo ga salah namanya Gramaphone) yang masih berada di jalan Orchard. Saya dan Dina berjalan cepat menuju toko itu. dari lantai bawah saya melihat toko-toko sudah mulai tutup. Oh, saya berharap toko CD itu masih buka. Sampai dilantai paling atas, toko itu ternyata masih buka. Lalu saya bertanya kepada pegawainya dan...”i’m sorry, out of stock”. Sial. Pupus sudah target belanjaan saya di negeri kecil ini, sementara teman-teman yang lain memborong barang-barang hingga ke titik penghabisan kas pribadi mereka.

Day 4

Selesai sudah perjalanan tak terduga jilid dua ini. Pagi-pagi kami bangun dan bersiap-siap untuk pulang. Sekitar jam 9 kami sudah berangkat menuju pelabuhan. Tiba di sana, kami antri memesan tiket feri lalu turun ke lantai bawah untuk segera naik feri. Sampai di lantai bawah, saya tak mengira kepulangan ini akan terasa begitu cepat. Setelah beberapa menit menunggu antrian masuk ke feri dibuka, saya menoleh ke arah belakang dan melihat secercah cahaya. Aha!! Ternyata ada Galeria (toko yang menjual coklat, wine, dan beragam minuman impor) di belakang saya. Namun, pada saat itu juga antrian masuk sudah dibuka dan para penumpang sudah beranjak dari kursi tunggu mereka. Skip untuk satu menit, saya langsung memutuskan untuk ke toko itu dan membeli satu botol Martini. Akhirnya, rasa BT saya di hari sebelumnya terbayar juga. Akhirnya ada oleh-oleh juga untuk dinikmati di kota Bandung.

Naik pesawat dari Batam. Kami tiba sesudah maghrib di Bandung. Di perjalanan menuju rumah, tak sengaja saya melamun. Hari itu terasa lega. Seolah tidak ada beban lagi yang harus saya bawa dan entah kenapa saya ingin tersenyum terus. Yang jelas rasanya lega, selega hutang yang telah dibayar lunas. Seminggu setelah perjalan ini, saya resmi keluar dari Elemental Gaze dan berhenti dari aktivitas nge-band. Awalnya memang terasa berat untuk meninggalkan sesuatu yang kita lahirkan dan kita bangun. Namun, saya percaya bahwa sesuatu dibangun dari sesuatu yang bernama ide atau gagasan. Saya merasa tak perlu mengkultuskan bangunan yang telah berdiri tegak atau mencoba meruntuhkan bangunan ketika saya tak lagi berada di dalamnya. Empat tahun saya sudah merasakan kebahagiaan dan banyak pengalaman di kelompok kecil ini. Empat tahun yang sebelumnya tak pernah saya kira. Dan selama waktu berjalan, seseorang harus memilih jalan mana yang ia akan tempuh. Saya hanya percaya bahwa di balik sesuatu selalu hidup sesuatu yang tak terlihat yang bernama ide atau gagasan. Selama ide itu hidup, maka akan banyak bangunan lain yang berdiri tegak.

crash

HOME 3SECOND MOUTLEY ART GALLERY CHAT ROOM ARTICLE WALLPAPER CONTACT US
HELP HOW TO ORDER COMPETITION BUSINESS OPPORTUNITY DEMO SONGS CAREER OPPORTUNITY